Cara Menanam Bawang Merah beserta Panduan Tata cara budidaya nya dapat dilakukan oleh semua kalangan, asalkan ia bersungguh-sungguh. Saya juga disini berusaha menyajikan informasi akurat tentang Cara budidaya Bawang Merah semoga informasi dari saya selaku penulis Situs ini dapat berguna bagi Para Pembaca sekalian. Berikut Cuplikannya:
1. Pengelolahan Tanah.
- Bersihkan Tanah dari Gulma dan gemburkan tanah, dan lakukan cek PH tanah, jika PH dibawah 5,6 lakukan pengapuran dengan kaptan atau dolomit dengan dosis 1-1,5 Ton/ha. Pengapuran sebaiknya dilakukan 2 minggu sebelum pasca tanam, Pengukuran bisa menggunakan kertas lakmus, pH meter, atau cairan pH
tester. Pengambilan titik sampel bisa dilakukan secara zigzag.
- Pemuukan dasar dilakukan 2 minggu sebelum pasca tanam, dengan menaburkan pupuk kandang dengan dosis 15-20 Ton/ha atau 5-10 Ton/ha kompos matang ditambah 200 kg/ha TSP.
- Pembuatan Bendengan dilakukan sesuai kebutuhan, biasanya bendengan dibuat ddengan ukuran 1,5-1,75 m dengan jarak parit 0,5 m dengan kedalaman 0,5 m.
2. Pemeliharaan dan Pemupukan
Penanaman lebih baik
dilakukan dalam bedengan untuk musim kemarau sekitar 20-25 dan untuk
musim penghujan sekitar 40-50 cm. Penanaman tanpa menggunakan bedengan
tidak disarankan karena resiko adanya genangan air yang mempengaruhi
negatif pertumbuhan tanaman dan meperbanyak timbulnya penyakit.
Kebutuhan pupuk setiap
jenis tanaman berbeda tergantung pada tingkat kesuburan tanahnya.
Tindakan pemupukan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hara bagi
tanaman, bila suplai hara dalam tanah tidak mencukupi.
Oleh karena pemupukan
yang tidak efisien dapat menyebabkan meningkatnya biaya produksi.
Pemupukan pada tanah-tanah yang produktif seperti di pusat produksi
kabupaten Nganjuk dan Probolinggo tidak perlu berlebihan, cukup
menggunakan takaran urea 200 kg/ha, KCl 200 kg/ha dan ZA 450-500 kg/ha
yang masing- masing diberikan separo pada umur tanaman 15 dan 30 hari.
Sedangkan untuk pupuk
dasar dapat menggunakan pupuk kandang kotoran sapi 10-15 ton/ha atau
kotoran ayam yang sudah masak sebanyak 5 ton/ha dan TSP 150 kg/ha yang
diberikan 7 hari sebelum tanam.
Cara pemupukan sebaiknya
dilakukan dngan membuat larikan di sekitar tanaman dan pupuk dibenamkan
kemudian ditutupi tanah. Pemupukan dengan cara menyebar sebaiknya tidak
dilkukan karena tidak efisien dan bila pupuk menempel pada daun akan
menyebabkan trebakar.
Setelah tanaman bawang
merah dipupuk, dapat diairi dengan cara di "sirat". Sebaiknya bawang
merah disiangi lebih dulu sebelum dilakukan pemupukan agar gulma tidak
tumbuh semakin subur.
3. PASCA PANEN
Tanda-tanda tanaman yang
siap dipanen : usia tanaman sudah cukup tua, contoh varietas bawang
biru umur 60 hari, bawang varietas philipine umur 70 hari, dan tidak
mengeluarkan daun muda.
Keadaan tanaman antaraa
umbi dan badan sudah lembut, tanaman mulai rebah, daun bagian bawah
mulai menguning dari ujungnya. Panen dengan cara mencabut bilamana tanah
gembur dan umbi 90% diatas tanah, akan tetapi bilamana umbi masih di
dalam tanah maka perlu alat bantu berupa sabit kecil untuk menggali.
Penjemuran ditempatkan
pada bedengan bekas lahan tanam, dengan cara merebahkan bawang setebal 5
cm dan daun ditaruh di bagian atas sedangkan umbinya tertutup daun,
sehingga umbi bawang merah tidak kelihatan pada penjemuran tersebut,
pada akhir penjemuran umbi yang kelihatan ditutupi dengan jerami.
Tujuan pengeringan ini adalah pengeringan daun, bukan pengeringan umbi. Lama penjemuran 7-10 hari sesuai dengan keadaan cuaca.
Apabila daun sudah
kering diadakan penalian. Penalian umumnya dilaksanakan pada malam hari
sebab daun tidak keras, Jika daun terlalu keras umbi banyak yang lepas
dengan daunnya.
Umbi yang lepas dari
daunnya tidak bisa disimpan lama dan harganya di pasaran lebih murah.
Jikalau bawang tersebut mau disimpan maka penjemuran dilaksanakan dalam
keadaan ikatan dengan posisi umbi ditaruh di bagian atas.
4. HAMA TANAMAN BAWANG MERAH
Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)
Larva
ulat tanah aktif menyerang tanaman bawang merah pada malam hari dengan
cara memotong pangkal batang tanaman muda. Sedangkan siang harinya larva
ulat bersembunyi di dalam celah-celah tanah, biasanya dengan posisi
tubuh melingkar. Pengendalian hama ini secara kimiawi menggunakan
insektisida berbahan aktif karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk
pada kemasan.
Hama Putih (Thrips tabaci Lind.)
Siklus hidup Thrips
berlangsung selama 3 minggu. Di daerah tropis, siklus hidup Thrips hanya
berlangsung selama 7-12 hari, sehingga dalam satu tahun dapat mencapai
5-10 generasi. Setiap ekor Thrips betina dapat menghasilkan telur
sebanyak 80-120 butir selama hidupnya. Gejala serangan dapat diamati
pada daun muda atau pucuk daun. Nimfa dan imago menyerang tanaman bawang
merah dengan cara menghisap cairan daun. Bagian tanaman terserang akan
ternoda berwarna putih mengkilap seperti perak, kemudian berubah menjadi
kecoklatan berbintik hitam. Serangan berat menyebabkan tanaman mati
serta umbi yang dihasilkan berukuran kecil bermutu rendah. Pengendalian
hama Thrips menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin,
tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau
lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Ulat Bawang
Ulat bawang tanaman bawang merah adalah
Spodoptera exiqua.
Larva ulat bawang menyerang tanaman bawang merah dengan cara membuat
lubang pada daun bagian ujung, kemudian masuk ke dalam daun dan memakan
daun bagian dalam tetapi epidermis bagian luar tetap dibiarkan,
akibatnya daun tersebut tampak bercak-bercak berwarna putih, apabila
diterawang tembus cahaya. Jika populasi ulat bawang sangat banyak dapat
menyerang umbi bawang merah. Pengendalian kimiawi menggunakan
insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos,
klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo.
Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
5. PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH
Layu Fusarium
Layu
Fusarium menyerang tanaman bawang merah pada bagian dasar umbi lapis,
sehingga pertumbuhan akar dan umbi bawang merah terganggu. Gejala
serangan dapat diamati secara visual, yaitu daun menguning cenderung
terpelintir, tanaman mudah dicabut karena akar membusuk. Pada dasar umbi
terlihat cendawan putih, sedangkan pada umbi lapis jika dipotong
membujur terlihat pembusukan yang berawal dari dasar umbi kemudian
meluas ke atas maupun ke samping. Tanaman mati mulai dari ujung daun
kemudian menjalar hingga ke pangkal daun. Upaya pengendalian yang dapat
dilakukan antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman bawang
merah yang terserang, melakukan penggiliran tanaman serta penyemprotan
kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau
propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada
kemasan.
Ngelumpruk
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan
Stemhylium vesicarium (Wallr Simmons).
Gejala serangan penyakit ngelumpruk pada tanaman bawang merah adalah
terdapat bercak kekuningan yang tumbuh sangat banyak pada seluruh bagian
tanaman. Penyebaran penyakit berlangsung sangat cepat sesuai dengan
arah bertiupnya angin di areal pertanaman. Cendawan Stemhylium
vesicarium mampu mematikan tanaman secara serentak. Kumpulan tanaman
yang mati serentak terlihat seperti tersiram air panas. Pada kondisi
kelembaban udara tinggi dan berangin, maka infeksi dapat secara tunggal
maupun berasosiasi dengan cendawan Alternaria porri. Pengendalian secara
kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa
digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol,
atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa
digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.
Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Bercak Cercospora
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan
Cercospora duddidae (Walles).
Gejala serangan penyakit bercak Cercospora pada tanaman bawang merah
adalah terjadinya bercak klorosis pada ujung daun dan sering tampak
terpisah dengan infeksi pada pangkal batang. Daun tampak belang-belang.
Bercak klorosis berbentuk bulat berwarna pucat dan bergaris tengah 3-5
mm. Pusat bercak berwarna cokelat serta terdapat bintik-bintik yang
merupakan konidiofora jamur. Pengendalian secara kimiawi menggunakan
fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah
benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol
dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah
klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai
petunjuk pada kemasan.
Bercak Alternaria
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan
Alternaria porri (Ell.) Cif.
Gejala serangan penyakit bercak Alternaria pada tanaman bawang merah
adalah adanya bercak pada daun dengan pusat bercak berwarna ungu atau
lebih gelap. Pada daerah tersebut dapat ditemukan konidiofor yang mampu
berkecambah membentuk konidiospora. Infeksi awal pada tanaman bawang
merah ditandai adanya bercak berukuran kecil, melekuk ke dalam, berwarna
putih dengan pusat bercak berwarna ungu atau abu-abu. Apabila cuaca
lembab, bercak berkembang hingga menyerupai cincin, bagian tengahnya
berwarna ungu dan tepinya kemerahan serta dikelilingi warna kuning yang
dapat meluas. Ujung daun mengering atau bahkan patah. Permukaan bercak
pada akhirnya berwarna cokelat kehitaman. Serangan parah berlanjut ke
umbi, menyebabkan umbi membusuk berwarna kuning lalu menjadi merah
kecokelatan. Umbi membusuk dan berair dimulai dari bagian leher,
kemudian jaringan umbi yang terinfeksi mengering serta berwarna gelap.
Penyakit bercak daun Alternaria porri dapat dikendalikan secara kimiawi
menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan
adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau
tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan
adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi
sesuai petunjuk pada kemasan.
Embun Bulu
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan
Peronospora destructor (Berk) Casp.
Serangan cendawan Peronospora destructor bersifat sistemik dan lokal.
Gejala serangan penyakit embun bulu pada tanaman bawang merah terjadi
pada awal pertumbuhan. Infeksi terlihat terutama saat daun basah terkena
embuh, terlihat warna putih menyerupai bulu-bulu halus. Apabila tanaman
mampu bertahan hidup, maka pertumbuhannya akan terhambat, daun berwarna
hijau pucat. Infeksi pada daun mampu menyebar ke bawah mencapai umbi
lapis, kemudian menjalar ke seluruh lapisan hingga berwarna cokelat.
Penyakit embun bulu dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan
fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah
benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol
dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah
klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai
petunjuk pada kemasan.
Antraknosa
Antraknosa pada tanaman bawang merah adalah cendawan
Colletrotichum gloespoiroides Penz.
Kerusakan tanaman bawang merah akibar serangan penyakit antraknosa bisa
mencapai 50-100%. Penyakit ini sangat berpotensi menimbulkan kegagalan.
Gejala serangan dapat dilihat secara fisiologis, tanaman mati serentak
secara cepat. Serangan awal ditandai adanya gejala bercak putih pada
daun, selanjutnya akan terbentuk lekukan ke dalam (invaginasi),
berlubang dan patah karena terkuai tepat pada bercak tersebut. Jika
serangan berlanjut akan membentuk koloni konidia berwarna merah muda,
lalu berubah menjadi cokelat tua, dan akhirnya menjadi kehitaman. Umbi
akan membusuk serta daun mengering. Penyakit antraknosa dapat
dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan
aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim,
difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif
yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb.
6. PANEN
Tanaman bawang merah dapat
dipanen pada umur 60-70 hss di dataran rendah, 80-100 hss di dataran
tinggi. Tanaman bawang merah siap panen ditandai sebagai berikut :
- Pangkal daun jika dipegan sudah lemah.
- 70-80% daun berwarna kuning.
- Daun bagian atas mulai rebah.
- Umbi bawang merah kelihatan tersembul di atas permukaan tanah
- Sudah terjadi pembentukan pigmen merah dan timbulnya bau bawang
merah yang khas, serta terlihat warna merah tua atau merah keunguan pada
umbi bawang merah.
Panen sebaiknya dilakukan dalam keadaan kering dan cuaca cerah. Untuk
menghindari umbi tertinggal dalam tanah, 1-2 hari sebelum panen
dilakukan penyiraman terlebih dahulu menggunakan air. Panen dilakukan
dengan mencabut seluruh tanaman secara hati-hati, kemudian setiap satu
genggam diikat dengan 1/3 daun bagian atas. Pengikatan bertujuan untuk
memudahkan penanganan berikutnya.
Sekian Informasi yang saya ketahui dari berbagai sumber ingormasi semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.. SeLamat Mencobaa..